Home
Portfolio
Contact
ID | EN

© 2025 Dewata Tech.

Blog 12 menit baca 01 December 2025 Oleh Anak Agung Gde Wijaya Ksatriawarma

Checklist Wajib Sebelum Membangun Website Travel di Tahun Ini

Banyak pemilik bisnis travel di Bali dan Indonesia datang ke developer dengan kalimat, “Saya mau bikin website travel.” Di kepala mereka, website itu sesuatu yang teknis, urusan tampilan dan coding. Padahal sebelum bicara desain, ada satu hal yang jauh lebih penting: persiapan.

Tanpa persiapan, proses pembuatan website biasanya berjalan ruwet. Developer menunggu konten yang belum siap, pemilik bisnis bingung harus mengirim apa, revisi jadi berlapis, dan ujung-ujungnya website memang jadi, tetapi belum benar-benar siap dipakai jualan paket tour, sewa mobil, atau aktivitas wisata lainnya.

Karena itu, artikel ini menawarkan sebuah checklist sederhana. Dengan checklist ini, kamu datang ke developer (termasuk ke tim seperti Dewata Tech) dalam kondisi siap. Bukan hanya siap secara ide, tetapi juga siap secara data, konten, dan alur bisnis. Akibatnya, proses pembuatan website bisa lebih cepat, biaya lebih efisien, dan website travel yang kamu bangun sejak awal sudah diarahkan untuk menghasilkan booking.

1. Mulai dari tujuan: website travel ini mau kamu pakai untuk apa?

Sebelum menuliskan satu kata pun untuk website, berhenti sebentar dan jawab pertanyaan ini secara jujur: “Peran apa yang saya harapkan dari website dalam bisnis travel saya?” Pertanyaan sederhana ini akan menjadi kompas untuk semua keputusan berikutnya.

Jawabannya bisa berbeda untuk setiap bisnis. Ada yang hanya membutuhkan katalog paket agar calon tamu mudah melihat pilihan tour. Ada yang ingin website menjadi mesin booking yang bisa menerima pemesanan dan pembayaran online. Ada juga yang menjadikan website sebagai pabrik leads, tempat mengarahkan semua traffic dari Instagram, TikTok, dan iklan.

Sebagai titik awal, kombinasi yang realistis bagi banyak bisnis adalah menjadikan website sebagai katalog paket yang rapi sekaligus pengumpul leads melalui formulir dan tombol WhatsApp. Dengan begitu, website sudah punya fungsi jelas: membantu calon tamu memahami penawaranmu, lalu memudahkan mereka menghubungi bisnismu.

Setelah tujuan utama terasa jelas, sisa proses akan lebih terarah. Jumlah halaman, kebutuhan fitur booking, hingga gaya bahasa yang dipakai di website bisa disesuaikan dengan tujuan itu, bukan sekadar ikut tren.

2. Rapikan dulu data bisnis sebelum melompat ke desain

Langkah berikutnya adalah memastikan fondasi bisnis sudah terdokumentasi dengan baik. Banyak pemilik usaha travel langsung memikirkan slider foto dan warna tombol, padahal hal-hal sederhana seperti identitas brand dan kontak resmi saja belum seragam. Akibatnya, developer harus menebak-nebak dan risiko miskomunikasi jadi besar.

Mulailah dengan identitas bisnis. Tuliskan nama brand yang ingin kamu tampilkan di website, lengkap dengan cara penulisannya. Jika punya tagline, misalnya “Private & Custom Tour Bali” atau “Nusa Penida Specialist”, sertakan juga karena ini akan sangat membantu saat menyusun headline di halaman utama. Tambahkan deskripsi singkat tentang bisnis dalam dua atau tiga paragraf: siapa kamu, fokus destinasi apa, dan apa yang membuat layananmu berbeda.

Setelah itu, perhatikan elemen visual. Logo dan warna utama brand sebaiknya sudah siap sejak awal. Simpan logo dalam format yang bersih (PNG atau SVG) dan, bila memungkinkan, sediakan versi untuk latar terang dan gelap. Jika sudah punya warna brand, catat kodenya. Developer akan menggunakan informasi ini untuk menjaga konsistensi tampilan di seluruh halaman.

Berikutnya, kumpulkan semua informasi kontak resmi. Pastikan nomor WhatsApp yang akan dipasang di website benar-benar aktif dan dikelola, karena di Indonesia mayoritas calon tamu memilih jalur komunikasi ini. Lengkapi dengan email bisnis, alamat kantor atau meeting point jika relevan, serta tautan ke akun Instagram, TikTok, YouTube, dan halaman Google Business Profile. Dengan begitu, website langsung terhubung dengan ekosistem digital yang sudah kamu miliki.

Terakhir, jelaskan secara singkat fokus destinasi dan jenis layananmu. Apakah kamu hanya melayani area Bali, atau juga Nusa Penida, Lombok, dan Labuan Bajo? Apakah spesialisasimu adalah one day tour, multi-day tour, sewa mobil dengan sopir, airport transfer, atau paket aktivitas seperti rafting dan snorkeling? Informasi ini akan membantu developer menyusun struktur menu dan halaman yang terasa logis bagi pengunjung.

3. Siapkan konten inti: paket, detail, dan visual

Setelah fondasi bisnis rapi, barulah kamu masuk ke bagian yang sering kali paling memakan waktu: konten. Di sini, konten bukan hanya soal tulisan. Konten mencakup daftar paket, detail layanan, dan visual yang akan meyakinkan calon tamu bahwa kamu benar-benar bisa memberikan pengalaman wisata yang baik.

3.1 Memilih paket prioritas

Langkah awal yang praktis adalah memilih paket prioritas. Bayangkan website kamu hanya boleh menampilkan tiga sampai tujuh paket utama. Paket mana yang akan kamu taruh di depan? Biasanya ini adalah kombinasi antara paket yang paling laku, yang marginnya paling menarik, dan yang ingin kamu dorong penjualannya di tahun ini, misalnya tur Nusa Penida, paket kombinasi Ubud–Kintamani, atau tur sunrise trekking.

Dengan memilah paket seperti ini, kamu tidak kewalahan di awal. Paket lain tetap bisa menyusul, tetapi website sudah memiliki “produk bintang” yang menjadi fokus utama.

3.2 Menulis detail setiap paket

Setelah daftar paket prioritas jadi, mulailah menuliskan detailnya satu per satu. Untuk setiap paket, buat nama yang jelas dan tidak membingungkan, misalnya “Bali Private Tour 1 Hari – Ubud & Kintamani” dibandingkan hanya “Full Day Tour”. Lanjutkan dengan menuliskan durasi, itinerary per jam atau per sesi, dan poin-poin penting lain yang perlu diketahui calon tamu sebelum memesan.

Selain itu, jelaskan juga apa saja yang termasuk dan tidak termasuk dalam paket. Tulis secara sederhana, misalnya mencakup transport, makan, tiket masuk, atau guide, dan sebutkan dengan jujur hal-hal yang tidak termasuk seperti tiket pesawat atau pengeluaran pribadi. Jangan lupa menjelaskan pola harga. Kalau harga berbeda untuk high season dan low season, atau berbeda antara per orang dan per grup, uraikan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Di bagian akhir, tambahkan catatan khusus. Kamu bisa menjelaskan apakah paket ini cocok untuk keluarga dengan anak kecil, apakah ada kebutuhan fisik tertentu, atau seperti apa kebijakan pembatalan dan pengembalian dana. Detail kecil seperti ini sering menjadi faktor penentu apakah seseorang merasa nyaman melanjutkan ke tahap booking.

3.3 Menyiapkan foto dan video

Dalam bisnis travel, foto dan video adalah senjata utama. Oleh karena itu, usahakan setiap paket memiliki beberapa foto yang benar-benar layak tampil: tajam, terang, dan menggambarkan pengalaman yang akan dirasakan tamu. Foto horizontal sangat berguna untuk banner atau tampilan hero di halaman paket.

Jika mempunyai video pendek, kamu bisa mencatat mana saja yang ingin di-embed dari YouTube atau platform lain. Visual asli dari turmu sendiri biasanya terasa lebih meyakinkan dibandingkan hanya memakai foto stok generik. Selain lebih jujur, calon tamu juga bisa merasakan karakter bisnismu dari cara kamu menampilkan destinasi.

3.4 Merancang halaman utama dan halaman pendukung

Selain halaman paket, pikirkan juga isi untuk halaman utama. Di sana kamu memerlukan satu headline yang langsung menjawab pertanyaan, “Bisnis ini sebenarnya menawarkan apa?” Kamu bisa menambahkan subheadline yang menjelaskan nilai utama yang kamu berikan, beberapa paket unggulan, alasan mengapa calon tamu sebaiknya memilihmu, serta sekilas testimoni atau review bila sudah ada.

Halaman pendukung seperti Tentang Kami, Cara Booking, FAQ, dan Syarat & Ketentuan sebaiknya disiapkan sejak awal. Gunakan bahasa yang dekat dengan cara kamu menjelaskan ke calon tamu lewat chat atau telepon. Dengan begitu, website terasa alami dan mudah dipahami, bukan seperti brosur yang kaku.

4. Pikirkan teknis dasar yang berpengaruh besar sejak awal

Begitu konten inti mulai terbentuk, saatnya mendiskusikan beberapa hal teknis yang akan sangat memengaruhi cara website bekerja. Di tahap ini, kamu tidak perlu memahami istilah teknis secara mendalam, tetapi penting untuk punya gambaran dan preferensi sehingga keputusan yang diambil tidak bertentangan dengan cara kerja bisnismu.

4.1 Domain dan hosting

Yang pertama adalah domain dan hosting. Tentukan nama domain yang ingin kamu gunakan, misalnya kombinasi nama brand dengan kata “tour” atau “travel”. Jika sudah memiliki domain, catat di mana kamu membelinya dan siapa yang memegang aksesnya. Hal yang sama berlaku untuk hosting. Bila belum punya, tidak masalah. Kamu bisa berdiskusi dengan developer untuk memilih paket hosting yang cukup cepat dan aman.

Prinsip pentingnya sederhana: pastikan semua aset digital tersebut tercatat jelas atas nama bisnismu. Dengan cara ini, kamu tidak bergantung sepenuhnya pada satu pihak dan tetap leluasa mengembangkan website di masa depan.

4.2 Bahasa, mata uang, dan sistem booking

Setelah urusan domain dan hosting lebih terang, pikirkan bahasa dan mata uang yang akan digunakan di website. Banyak bisnis travel di Bali langsung memilih dua bahasa, Indonesia dan Inggris, karena pasar lokal dan internasional sama-sama penting. Untuk harga, kamu bisa menampilkan rupiah sebagai mata uang utama dan, bila perlu, menambahkan estimasi kurs ke mata uang lain.

Hal teknis lain yang perlu dipikirkan dari awal adalah sistem booking. Beberapa bisnis lebih nyaman jika website hanya mengumpulkan inquiry dan setiap pemesanan diselesaikan lewat WhatsApp. Bisnis lain ingin pengunjung bisa memilih tanggal, jumlah peserta, dan langsung membayar DP atau pelunasan di website. Semakin kompleks alurnya, semakin detail diskusi yang dibutuhkan.

Di sini, developer akan membantumu memilih apakah cukup dengan formulir sederhana, atau perlu integrasi dengan kalender dan payment gateway. Karena itu, cobalah menggambarkan alur ideal dari sudut pandang tamu: mulai dari melihat paket sampai menerima konfirmasi.

4.3 Metode pembayaran

Terkait pembayaran, catat rekening bank yang akan digunakan dan pertimbangkan apakah kamu ingin menerima pembayaran melalui kartu kredit, e-wallet, atau virtual account. Jika belum memiliki akun di payment gateway lokal, kamu bisa menyampaikannya kepada developer agar mereka membantumu dari tahap persiapan. Dengan perencanaan yang rapi, proses pembayaran terasa lebih aman bagi tamu dan lebih mudah dipantau oleh tim internal.

5. Tentukan siapa yang akan mengelola website setelah selesai

Sering kali, pemilik bisnis sangat fokus pada proses pembuatan website, tetapi lupa memikirkan siapa yang akan mengelola website setelah go-live. Padahal, sebuah website travel yang sehat perlu diperbarui secara berkala. Harga bisa berubah, paket baru muncul, dan jadwal promo berpindah.

Karena itu, sejak awal proyek, tuliskan siapa saja yang akan terlibat dalam pengelolaan website. Biasanya ada admin yang bertugas menjawab inquiry dari formulir dan email, ada orang yang menjaga WhatsApp tetap responsif, dan mungkin ada tim kecil yang akan mengurus pembaruan konten atau artikel blog. Jika kamu menggunakan WordPress atau sistem manajemen konten lain, pastikan ada orang yang bersedia belajar dasar-dasarnya.

Selain menyiapkan orang, pikirkan juga kebutuhan training. Jangan ragu meminta sesi pelatihan singkat dari developer agar tim internal merasa percaya diri saat mengubah teks, menambah paket, atau memperbarui harga. Website yang bisa kamu kelola sendiri dengan nyaman cenderung lebih tahan lama dan tidak cepat “mati” karena semua orang takut menyentuh dashboard.

6. Rencanakan bagaimana website akan mendatangkan pengunjung

Website yang bagus tidak akan banyak berarti kalau tidak ada yang mengunjunginya. Oleh karena itu, saat merencanakan website travel, luangkan waktu untuk memikirkan bagaimana kamu akan mendatangkan traffic. Langkah ini sering kali terlupa, padahal sangat berpengaruh pada hasil jangka panjang.

6.1 Menentukan sumber traffic utama

Ada beberapa jalur yang umum dipakai. Kamu bisa mengandalkan SEO dengan membuat artikel tentang destinasi dan menjawab pertanyaan yang sering muncul di Google. Kamu juga bisa menyiapkan landing page khusus untuk kampanye iklan, misalnya untuk paket tertentu di musim liburan. Selain itu, kamu dapat menjadikan website sebagai tujuan utama dari semua konten Instagram dan TikTok yang kamu buat.

Diskusikan rencana ini dengan developer. Jika SEO menjadi fokus, struktur halaman dan penulisan judul akan disesuaikan. Jika kamu berencana banyak beriklan, mungkin perlu dibuat halaman-halaman khusus yang lebih fokus pada konversi, misalnya halaman dengan satu paket utama dan ajakan booking yang sangat jelas.

6.2 Data yang ingin kamu pantau

Selain sumber traffic, pikirkan juga data apa yang ingin kamu pantau. Dengan memasang analitik dasar, kamu bisa melihat paket mana yang paling sering dibuka, dari mana pengunjung datang, dan berapa banyak yang mengklik tombol WhatsApp atau mengisi formulir. Informasi ini sangat berharga untuk pengambilan keputusan ke depan, misalnya ketika ingin menambah paket baru atau mengubah penawaran.

Kalau data ini dipantau secara rutin, kamu tidak perlu menebak-nebak. Keputusan marketing bisa didasarkan pada perilaku pengunjung yang nyata, bukan sekadar perasaan.

6.3 Rencana tiga sampai enam bulan ke depan

Terakhir, bayangkan apa yang ingin kamu capai dalam tiga sampai enam bulan pertama setelah website live. Apakah kamu ingin menambah jumlah paket, memperluas ke destinasi baru, atau menambah bahasa lain? Dengan gambaran seperti ini, developer bisa merancang website yang mudah dikembangkan, bukan hanya cantik di hari pertama.

Rencana sederhana pun sudah cukup. Yang penting, kamu sadar bahwa website adalah proyek jangka panjang yang akan terus tumbuh bersama bisnismu.

7. Menjadikan checklist ini sebagai senjata saat konsultasi

Kalau kamu sudah melalui semua poin di atas, bahkan jika belum seratus persen lengkap, kamu sebenarnya sudah jauh lebih siap dibanding banyak pemilik bisnis travel lainnya. Checklist ini bisa kamu bawa sebagai bahan diskusi saat berkonsultasi dengan developer.

Dalam pertemuan itu, kamu bisa menunjukkan daftar paket dengan detailnya, menjelaskan tujuan utama website, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang masih mengganjal, mulai dari booking engine sampai payment gateway. Developer yang berpengalaman akan sangat senang bekerja dengan klien yang datang dalam kondisi seperti ini, karena arah proyek menjadi lebih jelas dan risiko kesalahpahaman berkurang.

Pada akhirnya, website travel yang benar-benar siap jualan bukan dimulai dari desain atau fitur canggih, tetapi dari persiapan yang serius. Ketika kamu sudah tahu apa yang ingin dicapai, informasi apa yang perlu ditampilkan, dan bagaimana website akan dioperasikan, maka tugas developer adalah menerjemahkan semua itu menjadi sebuah pengalaman digital yang menyenangkan untuk calon tamu.

Langkahmu berikutnya cukup sederhana: duduk sebentar, buka dokumen kosong, lalu mulai susun checklist versi bisnismu berdasarkan poin-poin di artikel ini. Tidak perlu sempurna dalam sekali duduk. Kamu bisa mengisinya sedikit demi sedikit sambil mengingat paket, foto, dan detail layanan yang sudah berjalan selama ini.

Semakin lengkap checklist yang kamu punya, semakin kuat posisimu saat berdiskusi dengan developer. Kamu tidak lagi datang sebagai klien yang bingung, tetapi sebagai pemilik bisnis yang tahu apa yang ingin dicapai dari website-nya.

Dan ketika nanti kamu berkata, “Saya ingin website yang membantu saya mendapatkan lebih banyak booking langsung, ini data dan rencana saya,” peluang untuk mendapatkan website travel yang bekerja selaras dengan bisnismu akan jauh lebih besar daripada sekadar berkata, “Saya mau bikin website, tolong dibuatin yang bagus.”

Chat with Weida